Koran Jakarta | June 18 2018
No Comments

“Drone” Berawak untuk Layanan Taksi Terbang

“Drone” Berawak untuk Layanan Taksi Terbang

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Salah satu yang menarik dari pameran Consumer Electronics Show (CES) 2018 di Las Vegas, Amerika Serikat, adalah penampilan drone yang bisa membawa penumpang.

ntel bekerjasama dengan perusahaan rintisan Volocopter dar Jerman menampilkan taksi terbang Volocopter 2X. Pada ajang CES 2018 yang berlangsung pada 9 hingga 12 Januari 2018, drone  Volocopter 2X sempat sempat terbang  sebentar melintasi panggung pada pembuknaan gelaran ini Selasa (9/1). 

Berat drone mencapai 290 kilogram, tingginya 2,15 meter dan tinggi 7,35 meter  dan sanggup membawa dua orang penumpang.  “Volocopter membantu Intel mengembangkan faktor kemampuannya.  Intel membantu Volocopter hidup kembali,"  ujar CEOIntel Brian Krzanich pada kesempatan tersebut seperti ditulis The Verge.

Krzanich mengatakan, mesin baru ini dapat digunakan perusahaan taksi di kota-kota di seluruh dunia, tidak hanya sebagai cara untuk mendapatkan penumpang dari titik A ke titik B tetapi juga sebagai cara untuk membantu menghindari kemacetan lalu lintas kota akibatpadatnya kendaraan.

Volocopter 2X, diciptakan di Jerman dengan melibatkan 50 orang.  Krzanich menilai dengan taksi terbang ini maka akan membuka kemungkinan model bisnis, pasar baru, segmen baru yang berbeda, dan mitra baru dari yang pernah ada. Volocopter 2X, yang memiliki  18 rotor ini diharapkan bisa dipesan seperti taksi online yang dipesan melalui aplikasi.

Volocopter 2X sepenuhnya digerakan denganlistrik, dapat membawa beban hingga  180 kilogram. Dibutuhkan sembilan beterai independen dalam waktu 120 menit  untuk mengisinya. Dayamua dapat dipakai untuk penerbangan selama 30 menit, dan dalam waktu dekat dekat diharapkan waktu terbangnya meningkat hingga 1 jam.

 "Lima puluh lima tahun yang lalu, acara TV The Jetsons pertama kali menayangkan dan menunjukkan kepada kita masa depan di mana mobil terbang adalah bagian dari kehidupan sehari-hari,"  kata Krzanich.

Chief Executive Volicopter, Florian Reuter, mengatakan Volocopter 2X  telah melakukan penerbangan berawak pertama di luar rumah dengan versi kendaraan pada tahun 2016, diwilayah udara Jerman berdasarkan izin resmi untuk terbang dari otoritas penerbangan.

Perusahaan tersebut mencapai tonggak sejarah baru empat bulan yang lalu, melakukan penerbangan pertama taksi udara otonom di kota Dubai. 

"Volocopter adalah tipe pesawat lepas landas vertikal yang sepenuhnya baru," kata Reuter seperti dilansir oleh Sydney Morning Herald Rabu (10/1). Volocopter 2X berjalan dengan mengandalkan navigasi sistem GPS dan navigasi yang dual-redundant. Untuk situasi terburuk, terdapatparasut balistik yang akan mengerahkan dan memastikan bahwa taksi udara kembali ke tanah dengan penumpangnya  yang selamat.

Salah satu kekhawatiran dari taksi terbanga adalah masalah masalah peretasan. Namun Intel menyakinkan bahwa teknologinya pada Volocopter dapat diandalkan dari ancaman serangan peretasan. Namun demikian Krzanich menambhkan industri perlu bekerjasama untuk memperbaiki kelemahan dari teknologi ini.

Selanjutnya Volocopter akan melakukan penawaran taksi udara otonom sebagai layanan antar kota di seluruh dunia. Cara ini dilakukan untuk merevolusi cara kita semua mengalami mobilitas perkotaan terbaik dan terjangkau saat ini.

Selain Volocopter, perusahaan teknologi drone yang tampil pada CES 2018 adalah Yuneec dengan menampilkan serin Yuneec Typhoon H Plus, sebagai suksesor dari Typhoon H yang diperkenalkan tepat dua tahun lau.

Menurut The Verge, Selasa (9/1), selain mampu menghindar dari  rintangan Yuneec Typhoon H Plus memiliki kelebihan pada  navigasi dan kualitas kamera yang lebih baik. kameranya memiliki sensor berukuran 1 inci, dengan resolusi 20 megapixel untuk foto still.

Dengan kamera ini Video tak hanya bisa direkam dalam resolusi 4K, tapi juga dalam kecepatan 60 fps. Di samping itu, Typhoon H Plus juga menjanjikan hasil rekaman di kondisi minim cahaya yang lebih baik, terdapat layar 7 inci untuk menampilkan hasil rekaman secara real-timedalam resolusi 720p.

Soal daya baterai, Typhoon H Plus dengan kontrol dari perangkat berbasis Android diyakini mampu mengudara selama 25 menit nonstop dalam cuaca normal. Untuk keamanan, drone ini dilengkapi dengan fitur kemampuan menghindar dan anti tabrakan.

Menyandang enam rotor,  drone ini dapat beroperasi dengan 40 persen lebih senyap dari pendahulnya. Typhoon H Plus cukup tangguh, dengan keepatan angin mencapai 48 km per jama drone ini dapat tetap stabil di udara.Yuneec Typhoon H Plus menargetkan pasar profesional. Drone ini dijual pada harga 799.99, dolar AS atau harga yang sama dengan pendahulunya. hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment