Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Soedarmo, tentang Pembinaan Ormas

“Akses Media Sosial Harus Dicermati”

“Akses Media Sosial Harus Dicermati”

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Pada 21 September 2017, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri menggelar acara silaturahmi dengan organisasi kemasyarakatan Rasa Sejatining Inti Kamanungsan (Rajatikam), di Yogyakarta.

 

Acara ini adalah bagian dari program pembinaan ormas yang dilakukan direktorat keormasan Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri.


Disela-sela acara itu, Koran Jakarta berkesempatan mewawancarai Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo. Berikut petikan wawancaranya.


Kenapa program pembinaan ormas ini sangat penting?


Begini, tahun 1998 terjadi reformasi yang membuka arus perubahan di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sementara itu, arus globalisasi terus-menerus hadir dan memudarkan batas-batas “kebangsaan”,

termasuk semakin tipisnya batas wilayah dan kedaulatan negara. Kita pun seakan menjadi warga dunia. Masa ini pun diikuti dengan masa krisis yang juga memiliki andil memudarkan rasa nasionalisme bangsa.


Dari mana Anda tahu, rasa nasionalisme menurun?


Data yang saat ini kita miliki menunjukkan menurunnya kondisi nasionalisme bangsa.

Survei Nilai-Nilai Kebangsaan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan disampaikan oleh Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) pada tanggal 24 Juli 2017 yang lalu menyatakan dari 100 orang Indonesia terdapat 18 orang yang tidak tahu judul lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Kemudian, 24 orang dari 100 orang di Indonesia tidak hafal sila-sila Pancasila dan 53 persen orang Indonesia tidak hafal lirik lagu kebangsaan.


Dari data tersebut apa yang harus disikapi?


Menyikapi hal tersebut maka perlu perhatian kita bersama terhadap keterbukaan akses media sosial. Dengan terbukanya berbagai informasi, hal ini menimbulkan kerentanan tersendiri.

Kita lihat akhir-akhir ini banyak informasi yang meresahkan, yang mengadu domba, yang memecah belah.


Apalagi yang harus diwaspadai?


Selanjutnya, kita patut mewaspadai keterbukaan informasi yang dapat menimbulkan dampak teradikalisasinya seorang individu.

Fenomena lone wolf atau aksi perorangan yang terpapar ideologi radikal dan beraksi layaknya teroris, pada umumnya, mempelajari ideologi radikal hingga merencanakan penyerangan secara ekstrem melalui internet.


Soal pelemahan ideologi, tanggapan Anda?


Ya, data selanjutnya yang dapat saya sampaikan terkait nasionalisme adalah indikasi pelemahan ideologi kita.

Dari data Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional (Labkurtannas) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Indeks Ketahanan Nasional Indonesia tahun 2016 masih berada dalam posisi kurang tangguh. agus supriatna/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment